News & Insights

Dari Pemetaan Menuju Pendampingan, PkM Kolaboratif Institut Pariwisata Tedja Indonesia Perkuat Pengembangan Saung Eling

Dari Pemetaan Menuju Pendampingan, PkM Kolaboratif Institut Pariwisata Tedja Indonesia Perkuat Pengembangan Saung Eling
September 28, 2026 11:00 am

Dari Pemetaan Menuju Pendampingan, PkM Kolaboratif Institut Pariwisata Tedja Indonesia Perkuat Pengembangan Saung Eling

Kolaborasi lintas program studi memetakan potensi dan kebutuhan masyarakat dari aspek pariwisata, hospitality, komunikasi, UMKM, hingga digitalisasi sebagai dasar pengembangan destinasi yang bertahap dan berbasis kebutuhan masyarakat.

Kampung Lembur Sawah, Kelurahan Mulyaharja, [26/8/2026] — Institut Pariwisata Tedja Indonesia melaksanakan diseminasi hasil Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kolaboratif Semester Genap 2025–2026 bersama pengelola dan masyarakat Desa Wisata Saung Eling di Kampung Lembur Sawah, Kelurahan Mulyaharja. Melalui pendekatan lintas program studi, kegiatan ini memetakan potensi sekaligus kebutuhan pengembangan destinasi dari perspektif pariwisata, hospitality, hubungan masyarakat, dan bisnis digital sebagai dasar untuk menentukan pendampingan yang relevan bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk menyampaikan hasil kajian akademik. Berbagai hasil observasi, wawancara, focus group discussion (FGD), dan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya diterjemahkan menjadi pemetaan masalah, panduan, buku saku, rekomendasi, serta alternatif langkah pengembangan yang dapat dipertimbangkan bersama masyarakat. Pada akhir kegiatan, masyarakat juga diajak menentukan kebutuhan yang dinilai paling mendesak untuk menjadi fokus pendampingan berikutnya.

Memetakan Potensi Wisata dari Kekuatan Lokal

Dari perspektif pariwisata, salah satu potensi yang diidentifikasi adalah pengembangan heritage-based spiritual tourism. Potensi tersebut berangkat dari keberadaan jejak sejarah, peninggalan yang dikaitkan dengan Pajajaran, lanskap pedesaan, budaya Sunda, hingga kemungkinan menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga memberi ruang bagi pengunjung untuk memperoleh pengalaman yang lebih reflektif.

Pemetaan dilakukan dengan melihat unsur-unsur pengembangan destinasi, termasuk atraksi, amenitas, aksesibilitas, kelembagaan pendukung, dan akomodasi. Dari sisi atraksi, potensi yang disebutkan antara lain jejak sejarah, lanskap persawahan, budaya Sunda seperti silat, serta gastronomi lokal. Sementara itu, keberadaan saung, fasilitas makan, toilet, tempat ibadah, parkir, suasana pedesaan, dan homestay menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pengalaman pengunjung.

Tim juga melihat bahwa Saung Eling lebih berpotensi dikembangkan sebagai destinasi minat khusus dibandingkan wisata massal. Pemetaan pada tahap awal tersebut dirancang sebagai landasan sebelum memasuki pengembangan strategi pada tahapan berikutnya.

Potensi kegiatan budaya masyarakat turut mendapat perhatian. Hasil FGD menunjukkan bahwa daya tarik kegiatan tidak hanya bertumpu pada Sidekah Bumi, tetapi juga mencakup berbagai kegiatan lain yang berpotensi dikembangkan sebagai kalender kegiatan destinasi. Tim berharap pemetaan tersebut dapat menjadi awal kerja sama yang lebih berkelanjutan dalam pengembangan desa bersama masyarakat.

Untuk mendukung pengembangan Sidekah Bumi, tim juga memetakan kebutuhan capacity building melalui analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Tiga area yang diidentifikasi untuk kemungkinan pendampingan adalah sponsorship dan partnership, event dan crowd management, serta media partnership dan promotion.

Menguatkan Pengalaman Wisata melalui Hospitality

Perspektif hospitality menempatkan kualitas pengalaman wisatawan sebagai bagian penting dari pengembangan destinasi. Tim membahas penguatan produk kuliner lokal, penyajian minuman, serta kesiapan homestay sebagai komponen yang mendukung pengalaman pengunjung.

Salah satu kuliner lokal yang menjadi perhatian adalah sop lompong. Berdasarkan paparan dalam kegiatan, kuliner tersebut dinilai memiliki kekhasan, tetapi masih menghadapi tantangan berupa belum seragamnya resep dan terbatasnya orang yang dapat membuatnya. Karena itu, tim menawarkan proses untuk menghimpun resep yang sudah ada tanpa menghilangkan karakter lokal, melakukan pengujian, dan selanjutnya memperoleh satu formulasi yang dapat membantu menjaga konsistensi produk.

Pendekatan serupa digunakan untuk meningkatkan kesiapan homestay. Tim menyiapkan buku saku yang dapat digunakan oleh pengelola lama maupun warga yang kelak ingin menyediakan kamar sebagai homestay. Panduan tersebut berfokus pada tiga aspek, yaitu standar kamar, kewajiban pengelola, serta checklist operasional, termasuk hal-hal yang perlu dilakukan ketika tamu check-in dan check-out.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan destinasi tidak hanya berbicara mengenai daya tarik yang membuat wisatawan datang, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam memberikan pelayanan ketika wisatawan berada dan menginap di destinasi.

Menata Identitas, Informasi, dan Komunikasi

Program Studi Hubungan Masyarakat mengambil perspektif berbeda dengan menempatkan komunikasi sebagai salah satu infrastruktur pendukung pengembangan destinasi. Fokusnya adalah bagaimana Saung Eling dan masyarakat memiliki kesiapan dalam mengelola informasi dan komunikasi publik sehingga pengembangan produk wisata dapat didukung oleh penyampaian informasi yang lebih terarah kepada calon wisatawan.

Empat area komunikasi menjadi perhatian dalam sesi ini, yaitu pengelolaan informasi dan storytelling destinasi, penguatan keterlibatan stakeholder internal, pengelolaan hubungan dengan stakeholder eksternal, serta penguatan UMKM. Pendekatan yang digunakan tidak dimaksudkan untuk memberikan solusi secara sepihak. Tim menegaskan bahwa rekomendasi perlu disesuaikan dengan kondisi sumber daya dan keputusan masyarakat mengenai apa yang dapat dan perlu dikerjakan terlebih dahulu.

Salah satu temuan mendasar adalah perlunya konsistensi identitas dan informasi destinasi. Selain itu, perhatian diberikan pada pengelolaan kanal digital dan media sosial, sinkronisasi kontak resmi, pengembangan template konten, integrasi informasi UMKM dan homestay, serta panduan pengelolaan media sosial.

Dari sisi komunikasi internal, masyarakat sebenarnya telah memiliki modal berupa nilai gotong royong, struktur, dan aktivitas komunitas. Namun, keterbatasan sumber daya manusia dalam waktu dan kapasitas membuat koordinasi serta penyebaran informasi masih berpotensi terkonsentrasi pada pihak-pihak tertentu yang paling aktif. Kondisi tersebut mendorong perlunya komunikasi yang lebih ringan, teratur, dan mudah dipahami.

Panduan komunikasi internal yang disampaikan antara lain mendorong penyatuan dokumen dan informasi penting dalam kanal yang dapat diakses bersama, pembaruan informasi secara rutin, penyediaan ruang informasi bersama, menjaga ritme komunikasi berkala, menghubungkan komunikasi operasional dengan nilai budaya, serta melibatkan pemuda sejak tahap awal sesuai dengan waktu dan kapasitas mereka.

Reputasi Destinasi Dimulai dari Pengalaman Nyata

Pengelolaan reputasi juga menjadi salah satu bagian dalam penguatan komunikasi. Dalam pemaparan, reputasi dikaitkan dengan kesan yang terbentuk melalui pengalaman wisatawan ketika berkunjung, informasi di media sosial, cerita orang lain, pengalaman menggunakan homestay, hingga pengalaman terhadap produk UMKM.

Prinsip yang ditekankan adalah kesesuaian antara janji komunikasi dan kenyataan yang ditemui wisatawan. Jika destinasi menjanjikan lingkungan yang bersih dan rapi, misalnya, pengalaman aktual wisatawan harus mendukung janji tersebut. Konsistensi juga diperlukan ketika masyarakat menyambut wisatawan dan menyampaikan informasi mengenai paket wisata sehingga pengunjung memperoleh informasi yang seragam dan dapat dipercaya.

Pada aspek UMKM, perhatian diarahkan pada pendataan pelaku usaha, klasifikasi produk, kurasi, serta aspek perizinan. Pendataan dipandang penting agar potensi ekonomi masyarakat dapat dikelola secara lebih terstruktur dan selanjutnya diintegrasikan dengan pengembangan destinasi.

Digitalisasi Sudah Dimulai, Integrasi Menjadi Tantangan Berikutnya

Sementara itu, Program Studi Bisnis Digital melihat bahwa Saung Eling telah memiliki sejumlah titik kontak digital dalam perjalanan wisatawan. Calon pengunjung dapat menemukan informasi melalui media sosial, mencari informasi lebih lanjut, menghubungi pengelola melalui WhatsApp, melakukan reservasi melalui kanal digital, hingga bertransaksi menggunakan QRIS.

Tantangannya, berbagai titik kontak dan data tersebut masih tersebar dan belum sepenuhnya terintegrasi. Tim melihat peluang untuk menata data pelanggan dan menggunakannya secara lebih baik untuk memahami preferensi pengunjung, meningkatkan pelayanan, memperkuat pemasaran digital, serta mendorong kunjungan kembali.

Aspek pengelolaan keuangan juga mendapat perhatian. Tim memperkenalkan penggunaan aplikasi keuangan digital sebagai alternatif untuk membantu pencatatan transaksi, stok, pemasukan dan pengeluaran, serta penyusunan laporan secara lebih teratur. Manfaat yang diarahkan dari penggunaan sistem tersebut antara lain membantu pengelola mengontrol keuangan, mempermudah pencatatan, dan mendukung evaluasi usaha.

Keselamatan dan kesehatan kerja serta keselamatan wisatawan turut menjadi bagian pembahasan. Tim mengingatkan perlunya perhatian terhadap potensi bahaya dari aktivitas dapur, bahan pembersih, kondisi fasilitas, hingga keamanan fasilitas homestay. Penggunaan checklist harian, mingguan, atau bulanan ditawarkan sebagai salah satu langkah untuk membantu masyarakat melakukan pemeriksaan secara lebih teratur.

Masyarakat Menentukan Prioritas Pendampingan

Hal penting dari kegiatan PkM Kolaboratif ini muncul pada sesi akhir ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima paparan, tetapi diminta menyampaikan kebutuhan yang dianggap paling penting untuk ditindaklanjuti.

Koordinator kegiatan mengajak masyarakat berdiskusi menentukan program yang perlu diprioritaskan pada tahapan berikutnya. Pendekatan ini didasarkan pada harapan agar pengabdian tidak berhenti pada kegiatan saat itu, tetapi dapat dilanjutkan melalui pendampingan yang lebih fokus sesuai aspirasi masyarakat.

Salah satu perwakilan masyarakat menyampaikan bahwa berbagai kebutuhan yang dipaparkan sama-sama penting, termasuk penguatan kolaborasi dan pendataan UMKM. Ia juga menyampaikan harapan agar pendampingan dapat berlangsung lebih lama dan dilakukan secara bertahap sehingga masyarakat pada akhirnya mampu mandiri.

Pelaku UMKM yang hadir juga menyampaikan bahwa materi yang diberikan membuatnya mengetahui berbagai standar, persyaratan, dan checklist operasional yang dapat dibagikan kembali kepada pengelola homestay lainnya. Ia berharap pendampingan selanjutnya dapat membantu masyarakat memahami standar fasilitas yang diperlukan.

Diskusi juga mengungkap bahwa tidak seluruh homestay memiliki tingkat kesiapan yang sama. Beberapa telah bergabung sejak awal, sementara sebagian lainnya relatif baru dan belum memperoleh pendampingan yang sama. Masyarakat juga melihat peluang mengintegrasikan homestay dengan event agar pengalaman wisata tidak berhenti pada kunjungan satu hari, tetapi dapat dikembangkan menjadi pengalaman menginap yang lebih panjang.

Dari aspirasi tersebut, tiga kebutuhan kemudian dirangkum sebagai fokus yang dinilai mendesak, yaitu pengembangan UMKM, penguatan homestay, serta pengemasan homestay bersama event sehingga berpotensi meningkatkan okupansi. Tim Institut Pariwisata Tedja Indonesia menyatakan akan menampung aspirasi tersebut untuk dibahas lebih lanjut dalam menentukan langkah pendampingan berikutnya.

PkM Kolaboratif ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa pengembangan destinasi tidak dapat bertumpu pada satu disiplin maupun satu intervensi. Pariwisata, hospitality, komunikasi, hubungan stakeholder, UMKM, teknologi digital, pengelolaan keuangan, dan keselamatan saling berhubungan dalam membangun pengalaman wisata yang lebih baik.

Pada penutupan kegiatan ditegaskan bahwa pengembangan Saung Eling perlu tetap berangkat dari pengalaman, kebutuhan, kesiapan, dan keputusan masyarakat sebagai pihak yang paling memahami wilayahnya. Kegiatan diharapkan menjadi dasar untuk melanjutkan percakapan, menyelaraskan gagasan, dan merancang bentuk kolaborasi yang memberikan manfaat nyata.

Other News & Insights

Program Scholarship Contact Us